PSSI dan Muamba

March 19, 2012 Leave a comment

Akhir pekan kemarin (17/3) publik sepakbola dunia dikejutkan dengan kolaps-nya pemain Bolton Wanderers,  Fabrice Muamba, yang juga ponggawa tim U-21 Inggris, pada laga perempat final piala FA di markas Tottenham Spurs. Bukan hanya serangan jantung yang dialami Muamba saja yang mencengangkan dunia, tetapi sikap manusiawi yang diperlihatkan semua pihak dalam laga tersebut. Pemain, manajer, wasit bahkan seluruh penonton baik di stadion maupun lewat layar tv terhenyak dan bersama-sama berdoa yang terbaik untuk Muamba.

Kejadian itu pun menyentuh banyak pihak untuk memberikan semangat, pemain di liga Inggris maupun liga-liga dunia lainnya berlomba-lomba memberikan dukungan dan doa untuk kesembuhan mantan pemain Arsenal dan Birmingham City tersebut.

Melihat kejadian yang menimpa Muamba dan respon pemain serta dunia sepokbola dunia, saya langsung teringat dengan kondisi sepak bola tanah air. Untuk seorang Muamba, rivalitas seakan hilang..kita bisa melihat, sepakbola sebagai sebuah industri yang besar ternyata tidak melupakan sisi kemanusiaannya. Saat pertandingan dihentikan, penonton pun memberikan apresiasi yang luar biasa.

Bagaimana dengan Indonesia? Bahkan untuk kepentingan negara pun para petinggi sepakbola kita memilih untuk mementingkan dirinya sendiri. Ego dan rivalitas di atas segalanya. Untuk seorang Muamba sepakbola dunia bersatu, tapi itu tidak berlaku di Indonesia, mereka lebih memilih timnas mendapat malu daripada harus saling mengalah.

Awal kepengurusan Djohar Arifin, diwarnai bergulirnya dua kompetisi sepakbola yakni IPL dan ISL. Kini saat kompetisi berjalan setengah musim berlangsung, kedua kubu yang berseteru (PSSI Djohar dan KPSI) malah melaksanakan kongres tahunan dengan agenda tidak lebih untuk menetapkan hegemoni masing-masing.

Hasilnya!!! Saat ini bukan hanya ada dua kompetisi yang bergulir di tanah air, malah kepengurusan PSSI pun menjadi dua. Bukan mencari jalan keluar untuk memecahkan permasalahan persepakbolaan tanah air, malah membuat semuanya lebih runyam. Setiap kubu mengklaim dirinya yang syah dan tidak mengakui kepengurusan yang lain.

Sepertinya, pecinta sepakbola tanah air, yang notabene hanya berharap yang terbaik untuk timnas dan kebesaran bangsa dan negara, dan sudah bosan dengan omongkosong petinggi sepakbola kita..masih harus menelan kekecewaan melihat carut-marutnya kepengurusan PSSI kita.

Apapun yang terjadi, sebagai pecinta sepakbola, kita akan selalu mendukung Tim Nasional Indonesia. Perasaan sedih begitu menyesakkan dada saat timnas kita dibantai Bahrain dan kalah oleh Brunei. Haruskah kita menghancurkan garuda-garuda pejuang kita hanya untuk keegoisan kelompok-kelompok tertentu?.

Jika egoisme dan rivalitas masih dijunjung tinggi di atas kepentingan bangsa dan negara..entah kapan kita bisa merasakan iklim sepakbola seperti halnya liga-liga Eropa. Mungkin hanya di film-film kita bisa melihat dunia sepakbola kita berkembang dan menjadi kontestan Piala Dunia..Kalau terlalu muluk!! setidaknya kapan kita bisa memiliki liga yang teratur dan PSSI yang beneerrrr!!??

HIDUP TIMNAS..IN DO NE SI A !!!!

Categories: Sepak Bola Tags: , ,

Konsep Diri Pengguna Tato

March 19, 2012 Leave a comment

Tulisan ini merupakan bagian keempat artikel yang diambil dari tesis yang berjudul Fenomena Tato dan Pemaknaan Simbolik di kalangan Pengguna Tato Kota Bandung.
Oleh : Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si.

Pembentukan Konsep Diri Pengguna Tato

Konsep diri didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Baik buruk atau positif negatifnya pandangan kita terhadap diri sendiri, sering kita terapkan konsep diri kita dalam tingkah laku. Pengguna tato mempunyai kecenderungan untuk bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya, dalam bahasa psikologi disebut Nubuat yang Dipenuhi Sendiri.

Beberapa pengguna tato dengan konsep diri yang negatif adalah :
Pertama, Pengguna tato sangat peka terhadap kritik. Dia mudah tersinggung dan tidak tahan terhadap apa yang dikatakan orang tentang dirinya, apabila ada orang yang mengkritik penggunaan tato ditubuhnya maka dia akan marah dan menganggap kritik tersebut sebagai suatu hinaan. Pengguna tato dengan konsep diri negatif seperti ini lebih tertutup dan jarang bergaul dengan anggota masyarakat lain, mereka lebih senang berada dalam komunitasnya sendiri.
Kedua, Pengguna tato yang memiliki konsep diri negatif sangat senang jika ada orang yang memuji dirinya, walaupun dia berusaha menyembunyikan perasaan tersebut tetapi sebuah pujian akan diterimanya dengan antusias. Pengguna tato tipe ini senang menjadi pusat perhatian, segalam macam bentuk tato yang ada ditubuhnya dijadikan alat untuk membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
Ketiga. Karena kesenangan terhadap pujian orang lain, pengguna tato dengan konsep diri negatif cenderung mencela, mengeluh atau meremehkan apapun adan siapapun. Diri memberikan pandangan negatif terhadap pandangan orang lain tentang dirinya, terutama pandangan negatif. Sulit untuk menghargai orang lain dan memberikan pujian terhadap orang lain, dia merasa hanya dirinyalah yang layak mendapat pujian. Sikap ini disebut hiperkritis.
Empat, Pengguna tato dengan konsep diri yang negatif cenderung merasa dirinya tidak disenangi orang lain. Merasa tidak diperhatikan. Hal ini menyebabkan pengguna tato tersebut sulit untuk bergaul dengan orang lain, dia menggap orang lain itu musuh yang tidak bisa menerima dirinya, karenanya sangat sulit untuk mendapatkan teman atau sahabat karena dia sendiri telah  menjaga jarak dengan orang lain. Situasi itu dirasakan bukanlah salah dirinya, dia hanyalah sebagai korban dari sistem kemasyarakatan (sosial) yang sarat dengan nilai dan norma.
Kelima. Pengguna tato dengan konsep diri yang negatif tidak percaya dengan dirinya sendiri. Dia merasa tidak dapat bersaing dengan orang lain, tato dijadikan alat pembelaan diri atas keengganannya untuk bersaing memperoleh prestasi, dia pesimis dengan dirinya sendiri.

Selain konsep diri negatif, terdapat pengguna tato dengan konsep diri positif. Tanda pengguna tato dengan konsep diri positif adalah :

  1. Perilakunya dengan menggunakan tato ditubuh tentu akan menimbulkan masalah, tetapi dia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah. Salah satunya adalah memperlihatkan perilaku yang baik.
  2. Pengguna tato dengan konsep diri yang positif merasa dirinya merupakan bagian dari masyarakat, dia merasa setara dengan anggota masyarakat yang lain. Tato di tubuhnya bukanlah alasan merasa diri lebih rendah dari anggota masyarakat yang lain.
  3. Setiap orang senang dipuji termasuk pengguna tato, pujian diterimanya dengan tanpa rasa malu. Tetapi, dia tidak merasa dirinya sebagai pusat perhatian, dalam komunikasi dan interaksi orang lain harus mendapat perhatian yang sama. Ketika orang memuji dirinya maka dia akan rendah hati dan kembali memuji lawan bicaranya. Dia merasa dalam interaksi semu orang memiliki hak yang sama.
  4. Pengguna tato dengan konsep diri positif menyadari bahwa setiap orang memiliki perasaan yang berbeda, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat. Ia merasa wajar jika ada anggota masyarakat memberi penilaian negatif terhadap perilakunya menggunakan tato karena dia juga yakin ada anggota masyarakat lain yang tidak  mempermasalahkannya.
  5. Pengguna tato dengan konsep diri positif mampu memperbaiki dirinya. Dia sanggup menilai seperti apa dirinya, apabila ada aspek dalam dirinya yang tidak disenangi maka dia akan merubahnya.

Untuk memperbaiki konsep dirinya bukan dengan menjauhi masyarakat tetapi dengan membuktikan  bahwa tato yang ada ditubuhnya bukan identifikasi dari perilaku negatif, antara tato dan perilaku keseharian tidak dapat disamakan. Konsep diri yang paling dini umumnya di pengaruhi oleh keluarga, dan orang-orang dekat lainnya disekitar kita (Mulyana, 2000:8). Orang tua memberikan pendapatnya mengenai tato yang digunakan, begitu juga anggota keluarga yang lain dan orang-orang disekitar kita.

George Herbert Mead mengatakan setiap manusia mengembangkan konsep dirinya melalui interaksi dengan orang lain dalam masyarakat – dan itu dilakukan lewat komunikasi. Jadi kita mengenal diri kita lewat orang lain, yang menjadi cermin yang memantulkan bayangan kita. Charles H. Cooley menyebut konsep diri itu sebagai the looking glass-self, yang secara signifikan ditentukan oleh apa yang seseorang pikirkan mengenai pikiran orang lain terhadapnya, jadi menekankan pentingnya respon orang lain yang diinterpretasikan secara subjektif sebagai sumber primer data mengenai diri. (Mulyana, 2000:10).

Motivasi Menggunakan Tato

March 19, 2012 Leave a comment

Tulisan ini merupakan bagian ketiga artikel yang diambil dari tesis yang berjudul Fenomena Tato dan Pemaknaan Simbolik di kalangan Pengguna Tato Kota Bandung.
Oleh : Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si.

Motivasi Menggunakan Tato

Pengguna tato pasti memiliki tujuan atau alasan kenapa mereka memutuskan untuk menggunakan tato ditubuhnya. Tidak ada tingkah laku yang terjadi begitu saja tanpa ada lasan, pasti ada faktor-faktor anteseden, sebab musabab, pendorong, motivator, sasaran-tujuan, dan atau latar belakangnya. Faktor-faktor itu harus diletakkan dalam suatu kerangka saling hubungan yang bermakna agar kesemuanya terjamin mendapat tilikan yang cermat ketika melakukan pendeskripsian tingkah laku, dan agar deskripsi dilakukan memakai sistematika yang ajeg dan komunikatif.

Dari penelitian yang dilakukan, motivasi menggunakan tato di kalangan pengguna tato kota Bandung, antara lain :
Tato Membentuk Ingatan Mengenai Masa Lalu, Tato merupakan salah cara untuk mengabadikan kenangan seseorang, dengan tubuh sebagai medianya, tato akan terus melekat dalam diri penggunanya, dengan demikian kenangan itupun akan terus bersamanya, diantaranya untuk Mengenang Orang Tua.
Tato, sebuah Ekspresi Perasaan, Dari penelusuran yang peneliti lakukan terhadap pengguna tato di kota Bandung, peneliti menemukan beberapa pengguna tato dimana desain yang dibuatnya mencerminkan ekspresi dari perasaan sayang dan cinta, antara lain : Ekspresi rasa sayang terhadap anak, Ekspresi rasa sayang  dan cinta terhadap istri, Ungkapan sayang dan sakit hati karena cinta.
Tato sebagai Identitas, Identitas meliputi upaya mengungkapkan dan menempatkan individu-individu dengan menggunakan isyarat-isyarat nonverbal seperti pakaian dan penampilan (Stone dalam Phelan (1998). Banyak komunitas yang menjadikan tato sebagai salah satu ciri komunitas mereka, walaupun tidak  ada simbol tertentu yang jadi keharusan untuk di tatokan di tubuhnya, Komunitas Punk, Genk Motor, Komunitas Motor Besar atau anak-anak Band banyak yang menggunakan tato ditubuhnya sebagai salah satu ciri kelompok mereka, tetapi desain dan penempatannya tidak ada aturan mutlak.
Tato sebagai Seni dan Keindahan, Membuat tato untuk seni dan keindahan merupakan motivasi yang paling banyak disampaikan oleh informan. Motivasi inilah yang menyebabkan saat ini pengguna tato perempuan semakin banyak, Kent-Tato Studio menerima 60% pengguna tato yang menjadi pelanggan adalah perempuan yang berniat memperindah tubuh mereka dengan membuat tato.
Tato sebagai Pelampisan Permasalahan, Rasa sakit diakibatkan proses penatoan merupakan media untuk melepaskan beban permasalahan, disamping itu beberapa informan membuat tato karena frustrasi.

Categories: TESIS Tags: , , ,

Tato dan Tubuh

March 19, 2012 Leave a comment

Tulisan ini merupakan bagian Kedua artikel yang diambil dari tesis yang berjudul Fenomena Tato dan Pemaknaan Simbolik di kalangan Pengguna Tato Kota Bandung.
Oleh : Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si.

Tato dan Tubuh

Tubuh, bagi sebagian orang, menjadi media tepat untuk berekspresi dan eksperimen. Tak heran jika kemudian timbul aktivitas dekorasi seperti Tato, Piercing dan Body Painting, eksploitasi ini untuk sebagian besar pelakunya ditujukan untuk gaya dan pernyataan pemberontakan. Jika awalnya orang melakukan eksploitasi tubuh untuk tujuan yang lebih khusus, misalkan untuk identitas pada suatu budaya tertentu, kini eksplotasi tubuh melalu tato, piercing dan body painting berkembang karena mode dan gaya hidup.

Menurut Bruner (1986) Posisi tubuh menjadi sangat vital karena ia merupakan ruang perjumpaan antara individu dan sosial, ide dan materi, sakral dan profan, transenden dan imanen. Tubuh dengan posisi ambang seperti itu tidak saja disadari sebagai medium bagi merasuknya pengalaman ke dalam diri, tetapi juga merupakan medium bagi terpancarnya ekspresi dan aktualisasi diri. Bahkan lewat dan dalam tubuh, pengalaman dan ekspresi terkait secara dialektis.

Tato adalah gambar atau simbol pada kulit tubuh yang diukir dengan menggunakan alat sejenis jarum. Biasanya gambar dan simbol itu dihias dengan pigmen berwarna-warni. Dulu, orang-orang masih menggunakan teknik manual dan dari bahan-bahan tradisional untuk membuat tato. Orang Eskimo misalnya, memakai jarum dari tulang binatang. Sekarang, orang-orang sudah memakai jarum dari besi, yang kadang-kadang digerakan dengan mesin untuk mengukir sebuah tato. Kuil-kuil Shaolin menggunakan gentong tembaga yang panas untuk mencetak gambar naga pada kulit tubuh.   ( Juliastri, Nuraini. & Antariksa. Tato Antara Politik dan Keindahan Tubuh. Artikel dalam World Wide Web http://kunci.or.id.)

Menurut Ady Rosa dalam penelitiannya mengenai Eksistensi Tato Mentawai, selama ini diyakini bahwa tato tertua ditemukan di Mesir sekitar tahun 1300 SM. Dari penelitian yang dilakukannya diketahui bahwa Tato Mentawai telah ada sejak 1500 tahun sampai 500 tahun Sebelum Masehi. Jadi bisa dikatakan, tato Mentawai merupakan Tato tertua di dunia.

Tato telah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan merupakan suatu bentuk seni tertua yang memiliki beragam arti seperti halnya budaya yang lain. Pada beberapa kelompok, tato merupakan tanda suku atau status. Selain itu, tato juga bisa menandakan beratnya jalan menuju kedewasaan, atau menunjukkan keahlian si pemilik tato. Salah satu alasan paling populer dan juga paling tua adalah seni tubuh ini menambah keindahan si pemilik. Di dunia Barat, tato biasanya dianggap sebagai bentuk ekspresi dan kreativitas seseorang. Selain menunjukkan individualitas, secara bersamaan tato juga menunjukkan bahwa pemiliknya adalah anggota sebuah kelompok komunitas yang menyukai seni tubuh. Di Amerika Serikat, tato sempat memberi kesan buruk bagi pemiliknya, walaupun sekarang tato dianggap sebagai bagian dari budaya Amerika. (http://www.adiportal.com/gado/okt2002/g01_24102002.htm).

Tato yang kini banyak menemani kehidupan anak muda di perkotaan ternyata berada dalam kondisi tercerabut dari habitat aslinya, terpelanting di dunia yang sama sekali tidak tahu menahu aturan bagaimana semestinya tato diperlakukan.Sebagian masyarakat modern yang tertarik dengan tato, kemudian menggunakannya semau dan sesuka hati sebagai ekspresi diri. Kesukaan berekspresi dengan menimbulkan kontra dari sebagian lain masyarakat yang berseberangan keyakinan dengan adat lama. Sebagian lain ternyata malah membelokkan kegunaan untuk menandai hal yang negatif, tato menjadi identik dengan kriminalitas. Olong (2006:vii)

Fenomena tato bukan dilahirkan dari sebuah tabung dunia yang bernama modern dan perkotaan. Secara historis, tato lahir dan berasal dari budaya pedalaman, tradisional, bahkan dapat dikatakan kuno (Olong, 2006: 8). Keberadaan tato pada masyarakat modern perkotaan mengalami perubahan makna, tato berkembang menjadi budaya populer atau budaya tandingan yang oleh audiens muda dianggap simbol kebebasan dan keragaman. Akan tetapi kalangan tua melihat sebagai suatu keliaran dan berbau negatif. Dengan demikian tato akan sangat tergantung pada tiga konteks pemaknaan, yakni kejadian historis, lokasi teks dan formasi budaya. Akibatnya kini budaya pop menjadi seperti lapangan perang semiotik antara sarana inkorporasi dan sarana resistensi, antara pengangkat makna yang diusung, kesenangan dan idetitas sosial yang diperbandingkan dengan yang telah ada.

Tato belakangan ini menjadi mode. Bila semula tato merupakan bagian budaya ritual etnik tradisional, kini berkembang menjadi bagian kebudayaan pop. Pada saat tato tradisional terancam punah, tato yang menjadi bagian kebudayaan pop semakin tertera di tubuh-tubuh manusia modern dan semakin disenangi. Karenanya tidak perlu heran melihat artis-artis atau kalangan selebritis menjadikan tato sebagai identitas yang melekat pada dirinya.

Di Indonesia sendiri pernah ada suatu masa ketika tato dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tatto dianggap identik dengan penjahat, gali, dan orang nakal. Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat. Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat pengesahan ketika pada tahun 1980-an terjadi pembunuhan terhadap ribuan orang gali dan penjahat kambuhan di berbagai kota di Indonesia. Pembunuhan ini biasa disebut dengan Petrus, neologisme dari kata penembak dan misterius. Tanggapan negatif masyarakat tentang tato dan larangan memakai rajah atau tato bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan imej tato sebagai sesuatu yang dilarang, haram, dan tidak boleh. Maka memakai tatto dianggap sama dengan memberontak. Tetapi justru term pemberontakan yang melekat pada aktivitas dekorasi tubuh inilah yang membuat gaya pemberontak ini populer dan dicari-cari oleh anak muda. Orangorang yang terpinggirkan oleh masyarakat memakai tato sebagai simbol pemberontakan dan eksistensi diri, anak-anak yang disingkirkan oleh keluarga memakai tato sebagai simbol pembebasan.    ( Juliastri, Nuraini. & Antariksa. Tato Antara Politik dan Keindahan Tubuh. Artikel dalam World Wide Web http://kunci.or.id).

Eksistensi tato selama ini dianggap sebagai bagian dari penyimpangan.Tato masih merupakan bagian dari tindakan yang keluar dari rel-rel kaidah dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. Pada masyarakat Indonesia, kecuali kotakota besar, konformitas masih sangat kuat di mana anak muda dianggap normal, ganteng dan alim apabila rapi, bersih tidak ada tato, tak bertindik dan lain-lain. Jika terjadi penyimpangan sedikit saja seperti telinga atau hidung yang ditindik, maka akan mengakibatkan gunjingan dan celaan yang cepat menyebar ke manamana. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika gaya-gaya anak muda seperti itu akan cepat-cepat dianggap sebagai sesuatu yang negatif. (Olong, 2006: 34-35).

Abstrak Penelitian Tato

March 19, 2012 Leave a comment

Tulisan ini merupakan bagian pertama  artikel yang diambil dari tesis yang berjudul Fenomena Tato dan Pemaknaan Simbolik di kalangan Pengguna Tato Kota Bandung.
Oleh : Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan data kualitatif melalui pendekatan fenomenologi dan interaksi simbolik mengenai tato di kalangan penggunanya. Fokus penelitian ini adalah fenomena tato meliputi perkembangan, motivasi dan proses penatoan, pemaknaan simbolik dan pengelolaan kesan yang dilakukan dalam komunikasi di kalangan pengguna tato di kota Bandung. Informan penelitian adalah pengguna tato permanen dengan jumlah sebanyak 24 informan, penentuan informan dilakukan secara purposive. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam dan studi dokumentasi.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pengguna tato dapat dikategorikan berdasarkan: Alasan, pengguna tato imanen dan pengguna tato kontak; Motif, pengguna tato dengan orientasi masa lalu dan pengguna tato berorientasi masa datang; Desain, Pengguna tato klasik, pengguna tato modern dan pengguna tato kontemporer; Segi penempatan tato, pengguna tato terbuka dan tertutup; Pemilihan studio, pengguna tato aman dan pengguna tato berisiko.Sedangkan seniman tato dapat di kategorikan sebagai berikut : Lama menjalani profesi, seniman tato masa lalu dan masa kini; Peralatan yang digunakan, seniman tato tradisional dan seniman tato modern; Proses Penatoan, seniman tato aman dan seniman tato berisiko; Keahlian, seniman tato otodidak dan belajar khusus; Tempat penatoan, seniman tato profesional dan seniman tato kaki lima.

Komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam sebuah proses penatoan, hubungan antarpribadi antara seniman tato dengan pengguna tato sangat penting untuk menghasilkan tato yang sesuai dengan keinginan, disamping keahlian dan kreativitas seniman tatonya serta ketersediaan alat yang menunjang unsur kesehatan. Komunikasi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti penerimaan keluarga, teman dan masyarakat, keanggotaan kita dalam kelompok tertentu, konsep diri, peran yang dijalani serta bagaimana memaknai hubungan antara pengguna tato.

Pengeloalan kesan dilakukan ketika pengguna tato berinteraksi dengan keluarga atau anggota masyarakat yang belum dapat menerima penggunaan tato dan masih menganggap negatif orang yang menggunakan tato. Pengelolaan kesan ini dapat dilakukan dengan penampilan, misalkan menutupi tato agar tidak terlihat langsung oleh orang lain atau dengan bertingkah laku sesuai dengan harapan keluarga dan masyarakat.

Literatur Artikel Tato

March 19, 2012 Leave a comment

Tulisan ini merupakan daftar Literatur artikel yang diambil dari tesis yang berjudul Fenomena Tato dan Pemaknaan Simbolik di kalangan Pengguna Tato Kota Bandung.
Oleh : Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si.

Daftar Literatur

  1. Bruner, Edward M.1986. “Experience and Its Expressions”. Dalam Victor W.Turner and Edward M. Bruner (eds.). The Antropology of Experience.Urbana and Chicaho: University of Illinois Press.
  2. Bogdan, Robert & Steven J. Taylor, 1992. Pengantar Metode penelitian Kualitatif; Suatu Pengantar ke Teori dan Metode. Diterjemahkan oleh Munandir. Jakarta: PAU-PPAI Universitas Terbuka.
  3. DeVito A. Joseph. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta :P roffesional Book
  4. Fisher, B. Aubrey. 1986. Teori-teori Komunikasi. Diterjemahkan oleh Syrjono
  5. Trimo. Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  6. Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung:Remaja Rosdakarya.
  7. _______________. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru IlmuKomunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  8. Olong, HA. Kadir. 2006. Tato. Yogyakarta: PT. LKiS Pelangi Aksara.
  9. Phelan, Michael P. And Scott A. Hunt. 1998. Prison Gang Members’s Tatoos asidentity Work: The Visual Communication of Moral Careers.University of Kentucky
  10. Strinati, Dominic. 2003. Popular Culture. Pengantar Menuju Teori BudayaPopular. Yogyakarta: Bentang.

Sumber lain :

  1. Antariksa. 2000. Tato dan Politisasi Tubuh. Yogyakarta: Kunci Newsletter.
  2. Kuswarno, Engkus. 2004. Dunia Simbolik Pengemis Kota Bandung. Bandung: Disertasi Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
  3. Juliastri, Nuraini & Antariksa. Tato Antara Politik dan Keindahan Tubuh. http://www.kunci.or.id.
  4. Lazuardi, Luna. 2002. Studi Tubuh. Yogyakarta: Kunci Newsletter.
  5. Rosa, Adi. 1994. Eksistensi Tato sebagai Salah Satu Karya Seni Rupa TradisionalMasyarakat Mentawai. Bandung: Tesis Institut Teknologi Bandung.
Categories: TESIS Tags: , , , ,

Mengapa membuat blog ini?

March 18, 2012 Leave a comment

Keinginan untuk menulis dengan tema yang berbeda dibandingkan dengan blog-blog saya sebelumnya membuat blog ini akhirnya dibuat. Selama ini posting yang saya lakukan di rahmasyilla.wordpress.com maupun di amazingbandung.com lebih banyak mengenai ilmu komunikasi dan bahan ajar untuk mata kuliah yang saya bisa di Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad maupun di beberapa PT lainnya.

Tulisan-tulisan dari beberapa kolega, mahasiswa maupun penulis lain semakin menguatkan keinginan untuk berbagi tulisan, ide, kritik maupun kehidupan keseharian yang mungkin dapat bermanfaat bagi pembaca. Ide untuk menulis selalu ada, mulai aktivitas keseharian, opini berkaitan dengan pemberitaan di media massa, sampai seni dan budaya yang belakangan ini mulai saya dalami.

Bacaan yang mulai bergeser ke tema-tema budaya, filsafat maupun semiotika sepertinya cukup menarik untuk dikaitkan dengan kesehariaan di sekitar kita.

Seperti saya katakan, ide selalu ada..saya agak tidak sepaham dengan mereka yang mengatakan tidak punya ide :D. Hanya saja action untuk menuangkan ide tersebut menjadi sebuah tulisan bukanlah hal yang mudah. Berharap, keinginan untuk menulis ini tidak hanya sekejap saja, yang kemudian akan hilang sejalan dengan rasa malas dan munculnya pembenaran untuk tidak menulis di dalam hati ini.

Semoga tulisan yang nantinya akan di posting di blog ini dapat memberikan manfaat.

Categories: Kata-kata
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.